Bahasa Indonesia, Siapa Peduli ?


Apakah kita masih belajar bahasa Indonesia setelah tidak sekolah lagi ? sepertinya akan banyak yang mengatakan tidak, dan ketika sekolah apakah nilainya bagus ? mungkin kita sudah gak peduli lagi. Apakah para jurnalis itu menguasai bahasa Indonesia ? kalau tidak bagaimana jadinya tulisan yang mereka terbitkan ? apa dampak pada pembaca ? lalu… adakah orang-orang yang peduli dengan Bahasa Indonesia ?
Setidaknya itulah pertanyan-pertanyaan yang tersirat dikepala ketika membaca buku yang berjudul “BAHASA, kumpulan tulisan di Majalah Tempo”, penulisnya banyak dan mereka saya yakin cukup ahli dalam urusan Bahasa Indonesia, mereka yang familiar menurut saya adalah Ayu Utami, Danarto, Gunawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono. Yang lainnya saya belum begitu mengenal. Tapi tulisan mereka banyak yang menarik. Walaupun saya baca loncat-loncat sesuai judul yang menarik ada beberapa ingin saya ceritakan kembali, yaitu :
Buah-buahan
Bahasa Indonesia itu memiliki banyak istilah yang berkaitan dengan buah-buahan, dan istilah tersebut asli Indonesia. Buah-buahan tersebut memang ada yang menunjukan nama buah-buahan khas Indonesia tapi juga banyak istilah yang menggunakan kata buah. Banyaknya istilah yang dipakai menunjukkan memang Indonesia begitu kaya akan buah-buahan dan istilah.
Kita mengenal buah kelapa, buah durian, buah semangka. Juga ada istilah yang menggunakan nama buah tapi sesungguhnya bukan buah, yaitu buah betis, buah dada, buah pinggang. Juga kita mengenal buah hati, buah pena. Dan juga ada kata yang sering kita gunakan dalam peribahasa tetapi konon tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu buah simalakama.

Tamasya Bahasa
Pehatikan apa yang anda temui sepanjang jalan. Apa yang anda temukan hal-hal yang berkaitan dengan Bahasa Indonesia? Ternyata banyak yang menarik, dan saya kira banyak hal yang dapat dijadikan bahan praktek dari Bahasa Indonesia, sehingga pelajaran bahasa indonesia tidak hanya pelajaran dalam kelas. Itu akan lebih menarik, agar siswa melihat kesalahan dalam berbahasa.
Dewasa ini sudah bertebaran pedagang mobil bekas, perhatikan cara penulisannya. Apakah mereka menulis “di jual” atau “dijual” ? yang benar adalah “dijual” tapi masih banyak yang menuliskan “di jual” kita tahu kata “di” kemudian sepasi kemudiana kata selanjutnya, “di” menunjukan tempat. Penggunaan “di” lebih ekstrim lagi pada contoh “Al-Qur’an dilanggar” atau “Al-Qur’an di langgar” apa bedanya ?
Saya juga terhenyak ketika harus menentukan mana yang benar pada istilah : photocopy, photo copy, foto copy, fhotocopy ?

Bahasa Koran, bahasa jurnalistik
Bahasa koran itu harus menarik, judul sebuah tulisan harus bombastis, bad news is good news, begitulah kira-kira yang kita maklumi tentang bahas di media. Tapi perhatikan… apakah bahasa yang mereka pakai sudah sesuai dengan kaidah penggunaan bahasa yang benar ? atau bahasa media itu punya aliran sendiri ?
Yang saya yakini, mendia sangat berpengaruh pada perkembangan bahasa indonesia, bisa positif bisa negatif. Banyak istilah kemudian populer, walaupun banyak juga yang pada ahirnya menghilangkan istilah asli Indonesia, tergusur dengan istilah Inggris.
Sekarang mari kita tebak-tebakan. Perhatikan judul disebuah berita “Tiga Komplotan Perampok Bersenjata Menyerang Nasabah Bank”. Pertanyaanya adalah berapa orang perampok tersebut ? tiga orang ? atau lebih tiga orang, bisa 5, bisa 15, bisa 20 ?. Komplotan itu jamak, satu regu, satu kelompok. Jadi tiga kompolotan itu berati 3 kelompok, bukan tiga orang, jadi kalau jumlah tiap kelompok 5 orang maka tiga kelompok berarti 15 orang.
Tebak-tebakan selanjutnya “Seratus Pasukan Polisi berjaga-jaga menghalau demonstran” berapa jumlah polisi tersebut ? seratus orang ? logika bahasanya seperti di atas.

Bangga dengan Bahasa Indonesia
Bila istilah bahasa Indonesia banyak digunakan oleh bangsa orang lain apakah anda bangga ? bila kita banyak menyerap bahasa luar dan istilah asli atau padanan lokal jadi hilang, apakah anda sedih ? petanyaan itu yang menyelinap dihati. Dan bila saya harus menjawabnya maka saya akan menjawabnya dengan pasti “YA…! SAYA BANGGA, YA… SAYA SEDIH”. Bagaimana dengan anda ? lalu apa yang dapat dilakukan ? setidaknya ada bukti istilah Indonesia dipakai oleh negara tetangga yang berbahasa melayu, yaitu ketika lagu-lagi cipataan Indonesia atau film Indonesia yang laku keras disana… juga dengan Novel… dan karena kebanggan dan kecintaan itulah saya menulis ini.

Akronim, orang Indonesia itu lucu..
Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Urusan akronim ini saya kira masyarakat kita paling pinter dan kreatif menciptakannya. Mulai akronim yang “lurus” sampai yang lucu. Mulai dari dulu [sejak indonesia merdeka] sampai sekarang [musim pilkada]. Mulai dari para menteri [dengan akronim departemennya], tim sukses gubernur/bupati sampai tukang ojeg.
Diantara akronim tersebut adalah : ARDATH : Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil, JARUM SUPER : Jarang di rumah suka pergi, BOTOL : bodoh dan tolol, IJO LUMUT : Ikatan jomlo lucu dan imut, Tomingse : tolong mingkem sedikit, Titi DJ Dedi Dores : Hati-hati dijalan dengan diiringi doa restu. KUSAM PANTATNYA = Kubuang SAMpah Pada TenpATNYA. MLM : Menipu Lewat Mulut, KDRT = KEKERASAN DALAM RONGGA TJELANA, ITB = INSTITUT TERLANJUR BEKEN
Ada lagi ? ha… ha.. hal.. dan iseng-iseng saya memasukan keyword “akronim lucu” pada google.com setidaknya terdapat 25.000 halaman yang muncul.
Ternyata teknologi juga ternyata mempengaruhi munculnya akronim-akronim baru. Lihatlah SMS, banyak singkatan-singkatan baru yang kadang aneh. “gw otw, @home ntar ktm” maksudnya dalah “gua lagi dijalan, nanti ketemu di rumah saja”.

Demikian, beberapa hal yang menarik dari buku yang saya baca. Saya mencoba menguraikan kembali dengan bahasa sendiri [biar tidak dianggap plagiat atau copas] sesuai dengan pemahaman saya [itung-itung mencoba daya ingat dan pemahaman sekaligus mencoba berlatih bercerita dan menulis].
Pernah hal-hal trsebut saya tulis dalam status Facebook, tapi responya “negatif” sepertinya kurang menarik. Karena sepi respon saya berfikir “apakah mereka tidak peduli dengan Bahasa Indonesia ?” “Bahasa Indonesia, siapa peduli ?”

Black Lame, 12 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: