Cinta, Sayang dan Nafsu


Tulisan ini dipaksa sdr Aris Nurhidayanto untuk ditampilkan, dia berharap bisa tenar seperti Briptu Norman.

Aku pernah tidak peduli apa yang dikatakan orang yang baru diputus cinta pacar pertamanya, yaitu ‘cinta tidak harus memiliki’. Aku juga gak paham kalimat ‘sayang adalah ikhlas, cinta adalah sayang yang diembel-embeli harapan”. Atau semboyan ini, ‘kalau jodoh tidak kemana’.
Kalimat diatas tentu bukan kalimat sembarangan, biasanya sudah melalui uji validitas dan reliabilitas. (betul ’Non’, mirip skripsi….). Cuma, dalam dunia statistik pasti ada tingkat kesalahan. Karena memang sample tidak diambil dengan total sampling. Jadi masih ada celah atau peluang salah (manusiawi sekali ya….).
Begitupun cinta, sayang dan nafsu. Tiga kata bisa jadi satu makna, satu tujuan, satu pelaku dan satu rasa. Tapi, ketiganya pun bisa beda rasa, beda pikiran, beda orang dan beda kadarnya. Sangat subjektif (kata pakar kata-kata).
Meskipun kelihatan subjektif, kalau dinalar dengan akal sehat, bisa jadi berubah menjadi objektif (tergantung pesanan). Makanya jangan heran, menurut kacamata pelakunya, perbuatan ketiga kata tersebut katanya berdasar nalar yang jernih dan strategi 4-4-2 (seperti sepak bola), biar terkesan gak kampungan.
Tapi bagi pengamat, tindakannya bisa jadi emosional dan dipenuhi gejolak energi negatif. Disini memang bukan perdebatan mana yang benar atau salah, cuma mendapatkan ilmu dari ketiga kata-kata romantis itu.
Kembali ke jalurnya, ya……,, Ini sih cerita terinspirasi dari seseorang yang lagi kasmaran. Disuatu sore yang romantis, dia curhat dan minta petuah bijak. (aku senyum-senyum saja mendengarnya). Maklum saja. Kisah ini sudah dialami jutaan orang. Sudah pernah dibikin film. Bukunya laris terjual. Bahkan, di sinetron sore hari (teman nganggur ibu-ibu) juga mengisahkan ini. Kisah hebat ini juga dialami teman ’seperjuanganku’.
Tidak kenal usia dan waktu. Akhirnya meluncur juga kisah cinta segitiga itu. Meskipun waktu itu masih dalam tahap premature, tetapi aku menduga (keyakinan ku lho..!), arah cerita itu menuju ’poligami’ cinta. Dengan penuh keraguan dan ketidak percayaan padaku, temanku bertanya ’kemana arah cerita ini akan dibawa? apakah dia seperti itu ? mengapa hubungan ini begitu dekat ? apakah aku kuat iman ?”
”Kamu maunya apa, tetap seperti ini atau mau ke suatu tujuan ?,” aku mulai pancing nuraninya. ‘Aku cuma senang dapat ngobrol dan curhat. Gak ada maksud lain. Aku gak mau selingkuh’, kata temanku mencoba berkelit. Ok lah. Kalau berkaca pada dunia sekarang, sangat manusiawi jika tujuannya memang perselingkuhan. Sangat mustahil juga ada lelaki yang ikhlas memberikan waktu, tenaga dan materi kepada wanita ‘lain’ tanpa pamrih. (Kecuali aku sendiri…..he he….narsi yoooooooo).
Aku coba berikan pilihan, kamu mau tetap seperti ini (hubungan jarak jauh dan sembunyi-sembunyi) atau hubungan jarak dekat plus nyata (tetap dengan sembunyi). Sambil tersenyum tidak meyakinkan, temenku bilang bahwa bukan karakter dia selingkuh.
”Tidak ada alasan untuk itu. Keluargaku bahagia. Istriku percaya padaku dan memberikan kebebasan padaku. Anak-anakku baik saja. Hubungan kami harmonis. Apa masih mungkin terjadi ?” dia menyodorkan bukti pembelaan diri. Tetapi bagiku, itu tidak berarti apa-apa. Dari pengamatan dan pengalamanku, perselingkuhan itu banyak motif dan polanya. Banyak yang diluar dugaan. Penuh kejutan dan mendebarkan. (kalau gak tahan bisa jantungan !). Dari banyak konsultasi, pendalaman, ilmu barat maupun timur, sulit masuk nalar hubungan itu berakhir dengan happy ending.
Hari itu memang cuma pendahuluan dari cerita yang bersambung. Sudah kuduga sebelumnya, beberapa minggu kemudian temenku curhat lagi di warung nan sepi. Cerita yang dulu pernah diceritakan ternyata berlanjut. Bahkan sudah diujung pelupuk mata. Sasaran sudah jelas dan semakin jinak. Situasi juga kondusif. Jalinan komunikasi lancar 24 jam. Semua sudah ’membuka’ diri. Sudah saling menyodorkan ’hati’. Akhirnya temanku mengakui bahwa kondisinya memang bisa dikatakan selingkuh.
Bagiku, bukah hal aneh lagi. Satu pengecualian yang aku gak habis mengerti sampai tulisan ini aku buat, si wanita itu diluar dugaanku selama ini. Dia begitu manis, pintar, sopan, ramah, baik hati dan semua aksesorisnya ternyata mendapat perlakuan tidak normal dari suaminya. Sangat ironi bak cerita puteri istana. Dari luar adem ayem, di dalam panas membara.
Masalahnya sekarang posisi laki-laki temanku ini. Meskipun laki-laki dibekali rasa cinta lebih kepada lebih dari satu wanita, tentunya harus belajar berbagi. Kata kuncinya adalah tidak tahu (terutama istri). ”aku hanya ingin setia, aku tidak sanggup menyakitimu. Aku telah menjadi miliknya’ kata Armada Band.
Selingkuh memang komplek dan multivariat. Pada kondisi, waktu, orang dan keadaan tertentu bisa terjadi begitu saja. Tidak mesti terencana. Tidak harus masuk akal. Tidak harus ada persiapan. ’ora ritek tetap diarani’ kata Pak Sarnen dalam setiap kesempatan. Artinya, meskipun kita membantah tidak melakukan selingkuh akan tetap dituduh / diduga melakukan selingkuh. Karena hanya orang kuat saja yang tetap kuat dan tidak lemah.
”Tidak juga mas, dengan selingkuh malah tambah sayang sama istri” kata orang yang selingkuh. Bisa juga benar. Karena sayangnya ini disebabkan kasihan sama istrinya atau takut ketahuan. Atau memang poligami menjadi bakat manusia.
Nafsu juga gak jelas posisinya. Apakah dia menjelma jadi cinta atau jadi sayang. Bahkan bisa jadi nafsu itu berdiri sendiri. Memang nafsu itu hanya butuh saluran untuk melampiaskan. Masalahnya saluran ini legal atau tidak. Cinta juga kadang datang bersama-sama nafsu. Intinya kita gak telaten harus mikir ini. Gak ada tunjangannya. Biar tetap ruwet, sehingga kita bisa bebas dari hukumannya. mmmm…….memang lebih baik tidak mendekati singa tidur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: